Tingkatkan Kualitas Kopi, Petani Dampingan API Gelar Klinik Kopi

MALANG – Kopi robusta Dampit, masih menjadi primadona diberbagai kedai kopi di Nusantara. Kopi berkualitas tersebut, salah satunya diproduksi petani kopi anggota Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, yang merupakan dampingan Aliansi Petani Indonesia (API).

Untuk terus menjaga kualitas kopi, serta konsisten melakukan proses penanganan pasca panen kopi, API bersama para petani dari Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, menggelar klinik kopi.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) API, Muhammad Nuruddin, klinik kopi merupakan media pembelajaran bagi petani kopi dan konsumen, untuk mengetahui seberapa bagus mutu biji kopi yang diproduksi oleh petani.

“Biji kopi sebagaimana kita ketahui bersama, prosesnya berlangsung dari hulu dimulai dari petani sebagai produsen hingga sampai ke hilir (konsumen). Kita namakan proses dari lahan ke meja makan, sebagai bentuk suguhan dalam cangkir untuk diseduh atau diminum,” ujarnya.

Kualitas kopi ditentukan oleh banyak faktor, untuk itu dibutuhkan kerjasama dan pengertian banyak pihak, mulai dari petani, pedagang, grader, roastery, barista, pemilik kedai kopi, hingga konsumen.

Memanfaatkan rumah jemur kopi milik Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, para petani, konsumen, barista, serta pemilik kedai mengikuti klinik kopi. Kegiatan ini juga diikuti pengolah (prosesor) kopi milenal yang juga pemilik kedai kopi seperti Apresio, Museum Kopi, Remboeg Pawon, Koopen, Coffee Bar, Kedai Botani, Wiji Kawih, Datri Kopi, Coffee Belt, serta Meneer Karjo.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) API, Muhammad Nuruddin, klinik kopi merupakan media pembelajaran bagi petani kopi dan konsumen, untuk mengetahui seberapa bagus mutu biji kopi yang diproduksi oleh petani.

“Biji kopi sebagaimana kita ketahui bersama, prosesnya berlangsung dari hulu dimulai dari petani sebagai produsen hingga sampai ke hilir (konsumen). Kita namakan proses dari lahan ke meja makan, sebagai bentuk suguhan dalam cangkir untuk diseduh atau diminum,” ujarnya.

Kualitas kopi ditentukan oleh banyak faktor, untuk itu dibutuhkan kerjasama dan pengertian banyak pihak, mulai dari petani, pedagang, grader, roastery, barista, pemilik kedai kopi, hingga konsumen.

Memanfaatkan rumah jemur kopi milik Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, para petani, konsumen, barista, serta pemilik kedai mengikuti klinik kopi. Kegiatan ini juga diikuti pengolah (prosesor) kopi milenal yang juga pemilik kedai kopi seperti Apresio, Museum Kopi, Remboeg Pawon, Koopen, Coffee Bar, Kedai Botani, Wiji Kawih, Datri Kopi, Coffee Belt, serta Meneer Karjo.

Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, adalah wadah para petani kopi di tiga desa yang ada di Kecamatan Dampit. Yakni Desa Srimulyo, Desa Sukodono, dan Desa Baturetno. Sejak 2016 telah memulai usaha pemasaran bersama dengan kopi berbagai kualitas, dari kualitas premium hingga kualitas komersial grade (asalan mutu 3).

Klinik kopi yang digelar kali ini, diakui pria yang akrab disapa Gus Din tersebut, sebagai rangkaian dari kegiatan pelatihan bagi petani kopi yang digelar API bersama Kelompok Tani Tunas Baru di Dusun Purwosari, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

“Melalui klinik kopi ini, akhirnya kita bisa bertemu bersama untuk berkomitmen menjaga dan meningkatkan kualitas kopi robusta. Dalam rangkaian kegiatan ini juga digelar pelatihan pengelolaan paska panen dan penjaminan mutu, rencana usaha dan kelayakan bisnis kopi robusta, serta pelatihan koperasi,” terangnya.

Kegiatan ini, lanjut Gus Udin, merupakan program berskala global dari Tema “Petani Melawan Kemiskinan” yang didukung IFAD di Roma Itali, Uni Eropa di Brussel Belgia, Agri Cord di Spanyol, dan AsiaDhrra di Philpina. Banyak organisasi petani kecil di belahan Asia Pasifik, Amerika Latin, Afrika dan Eropa terlibat dalam proses pemberdayaan petani.

Selama ini kopi robusta dari wilayah Kecamatan Dampit, dikenal oleh para konsumen kopi nasional dan internasional dengan brand Java Dampit, yang mempunyai cita rasa kuat dan sangat disukai konsumen. Dengan luasan lahan kopi robusta rakyat 2.786 hektar, wilayah ini mampu menghasilkan produksi kopi sebanyak 1.912 ton/tahun, dengan rata-rata produktivitas 695 kg/tahun.

Keadaan geografis wilayah perkebunan rakyat di wilayah Kecamatan Dampit, yang khas ini menurutnya memunculkan tantangan di bidang logistik, dan tantangan untuk mendukung teknologi yang lebih baik, serta pegembangkan kelembagaan ekonomi petani yang terorganisir dan fokus pada nilai rantai dan pemasaran bersama.

“Dengan luasan kebun kopi yang bervariasi dan semakin sempitnya lahan, menjadikan efektifitas produksi menjadi beragam dengan model yang berbeda-beda pula. Permasalahan yang sering dihadapi dalam mendapatkan kopi yang berkualitas adalah kesadaran dan kemampuan petani kopi yang berbeda-beda,” tuturnya.

Mutu kopi pada dasarnya terkait dengan berbagai faktor yang menyatu pada sistem pertanian rakyat itu sendiri, seperti varietas kopi yang dibudidayakan, umur tanaman kopi dan faktor-faktor yang dapat dikendalikan seperti teknik budidaya, cara panen, pengelolaan paska panen dan penyimpanan.

Dia mengatakan, sifat masalah yang dihadapi dalam upaya memperbaiki mutu kopi rakyat berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Diketahui bahwa untuk menghasilkan 1 kg kopi ose robusta di wilayah Desa Baturetno, Desa Srimulyo, dan Desa Sukodono, dibutuhkan 4,7 kg biji kopi glondong merah. Jika melihat aspek finansial, hasil yang didapat dari menjual biji kopi glondong merah akan lebih besar dari pada menjual hasil menjual biji olah asalan.

“Klinik kopi dan pertemuan multipihak ini, bertujuan mengembangkan platform bersama dengan pemangku kepentingan seperti pemerintah selaku pengambil kebijakan, dan kedai kopi sebagai pengolah, serta konsumen yang memberikan masukan kepada petani untuk perbaikan dari budidaya dan pengelolaan paska panen,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga menjadi forum untuk pengembangan platform antara petani kopi, roastery, konsumen dalam bentuk tim uji cita rasa kopi, sebagai pembelajaran bersama untuk memperbaiki ketelusuran dan keterlacakan mutu kopi.

Kepala BPP Kecamatan Dampit, Jajang Selamet mengatakan, bahwa kondisi sosial ekonomi petani seperti kebutuhan yang mendesak, jauhnya kebun kopi dari rumah petani, dan kekurangan tenaga kerja, memberikan perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan integrasi hulu dan hilir.

“Pemerintah telah memperkuat kapasitas petani kopi wilayah Amstirdam (Ampelgading, Tiroyudo, dan Dampit) melalui sekolah lapang kopi, bekerjasama dengan IDH dari Belanda untuk perbaikan budidaya dan pengelolaan paska panen kopi,” tuturnya.

Kegiatan klinik kopi ini, menurutnya sangat berkontribusi kepada petani dalam hal perbaikan mata rantai kopi untuk menghasilkan mutu biji kopi (green bean) dalam perdagangan kopi robusta di pasar domestik.

Dari forum bersama di klinik kopi ini, diharapkan bisa menjadi panduan dan arah bagi petani dalam mengambil keputusan-keputusan produksi, termasuk untuk memahami terhadap perbedaan harga berdasarkan mutu di tingkat petani yang dihubungkan dengan keputusan petani untuk menghasilkan kopi robusta bermutu tinggi.

Sementara itu, Nugroho Dwi Sudibyo dari Apresio Kopi Malang, selaku ketua tim penguji cita rasa menjelaskan, biji kopi robusta yang dinilai adalah hasil panenan tahun 2019 dari varian proses basah (full wash), proses madu (honey), dan asalan mutu 3 (commercial grade).

“Secara umum, rata -rata nilai proses madu (honey) kami nilai 6.5. Artinya kopi robusta yang diolah petani baik. Perlu perbaikan diproses penjemuran dan penyimpanan, karena masih ada rasa kopi yang kurang kuat dan dikerongkongan terasa kering,” tuturnya.

Nilai kopi robusta proses basah mendapatkan skor 7. Nilai kopi Robusta proses basah dikarenakan proses pengolahannya dikontrol secara baik, dan biji kelihatannya lebih bersih.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi Jawa Timur, Mohamad Yasin melalui pesan singkatnya, mengaku sangat mengapresiasi pemberdayaan kepada petani kopi yang dilakukan API. “Diperlukan sinergitas program dan kegiatan bersama API, karena program ini memberikan nilai tambah bagi petani kopi,” tuturnya.

Sementara Direktur Pengembangan Ekonomi Desa (PUED), Kemendesa PDTT, Nugroho Setyo Nagoro mengaku sangat mendukung kegiatan ini, dan berjanji akan memberikan dukungan teknis melalui supervisi kepada petani kopi anggota Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama.(eyt)

Selengkapnya

Klinik Kopi Wadah Belajar Petani Kopi di Malang

MALANG- Klinik kopi merupakan media pembelajaran bagi petani kopi dan konsumen untuk mengetahui seberapa bagus mutu biji kopi yang diproduksi oleh petani. Biji kopi sebagaimana kita ketahui bersama, prosesnya berlangsung dari hulu dimulai dari petani sebagai produsen hingga sampai ke hilir (konsumen). Bertempat di rumah jemur kopi milik koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, klinik kopi ini mengundang pengolah (prosesor) kopi milenal yang juga pemilik kedai kopi seperti Apresio, Museum Kopi, Remboeg Pawon, Koopen, Coffee Bar, Kedai Botani, Wiji Kawih, Datri Kopi, Coffee Belt serta Meneer Karjo. Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama adalah wadah para petani kopi tiga desa yakni Srimulyo, Sukodono dan Baturetno di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Sejak tahun 2016 telah memulai usaha pemasaran bersama dengan kopi berbagai kualitas. Seperti, kualitas premium hingga kualitas komersial grade (asalan mutu 3). Heryanto menjelaskan jika pihaknya bekerjasama dengan Poktan Tunas Baru dan Seknas Aliansi Petani Indonesia pada tanggal 31 Agustus- 1 September 2020 di RT 02 RW 07 Dusun Purwosari, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. “Kami gelar ini untuk menambah pengetahuan para petani,” terang Ketua Koperasi Sridonoretno Makmur Heryanto.

Klinik Kopi dan Pertemuan Para Pemangku Kepentingan merupakan rangkaian kegiatan penutup dari beberapa kegiatan sebelumya seperti pelatihan pengelolaan paska panen dan penjaminan mutu. Tak hanya itu, Heryanto menyebut ada pendampingan rencana usaha dan kelayakan bisnis kopi robusta dan pelatihan koperasi mulai tanggal 3 – 22 Agustus lalu. Kegiatan ini merupakan program berskala global dari Tema “Petani Melawan Kemiskinan” yang didukung IFAD di Roma Itali, Uni Eropah di Brussel Belgia, Agri Cord di Spanyol, dan AsiaDhrra di Philpina. Banyak organisasi petani kecil di belahan Asia Pasifik, Amerika Latin, Afrika dan Eropa terlibat dalam proses pemberdayaan petani.Kecamatan Dampit dikenal konsumen kopi nasional dan internasional dengan brand Java Dampit yang mempunyai cita rasa kopi yang kuat dan sangat disukai konsumen. Dengan luasan lahan kopi robusta rakyat 2.786 hektar yang menghasilkan produksi kopi 1. 912 ton per tahun dengan rata-rata produktifitas 695 kg per tahun. Keadaan geografis wilayah perkebunan kopi robusta rakyat di wilayah kecamatan Dampit yang khas ini menimbulkan tantangan di bidang logistik dan tantangan untuk mendukung teknologi yang lebih baik dan mengembangkan kelembagaan ekonomi petani yang terorganisir dan fokus pada nilai rantai dan pemasaran bersama. Dengan luasan kebun yang bervariasi dan semakin sempitnya lahan, menjadikan efektifitas produksi menjadi beragam dengan model yang berbeda-beda pula. Permasalahan yang sering dihadapi dalam mendapatkan kopi yang berkualitas adalah kesadaran dan kemampuan petani kopi yang berbeda-beda.Menurut Muhammad Nuruddin, klinik kopi dan pertemuan multipihak ini bertujuan mengembangkan platform bersama dengan pemangku kepentingan seperti pemerintah selaku pengambil kebijakan dan kedai kopi sebagai pengolah dan konsumen yang memberikan masukan kepada petani untuk perbaikan dari budidaya dan pengelolaan paska panen. “Termasuk pengembangan platform antara petani, roastery, konsumen dalam bentuk tim uji cita rasa kopi dalam pendekatan pembelajaran berbentuk klinik kopi untuk memperbaiki ketelusuran dan keterlacakan mutu kopi,” ungkap Nuruddin. Tak hanya itu, Kepala BPP Kecamatan Dampit, Jajang Selamet mengatakan bahwa kondisi sosial ekonomi petani seperti, kebutuhan yang mendesak, jauhnya kebun kopi dari rumah petani dan kekurangan tenaga kerja memberikan perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan integrasi hulu – hilir. Pemerintah telah memperkuat kapasitas petani kopi wilayah Amstirdam melalui sekolah lapang kopi bekerjasama dengan IDH dari Belanda untuk perbaikan budidaya dan pengelolaan paska panen kopi.Kegiatan ini berkontribusi kepada petani dalam hal perbaikan mata rantai kopi untuk menghasilkan mutu biji kopi (green bean) dalam perdagangan kopi robusta dipasar domestik. Usaha-usaha yang dilakukan oleh petani dan kelembagaan petani (koperasi pemasaran) untuk menjawab sejauh mana perbedaan mutu kopi terhadap harga kopi robusta dapat ditingkatkan dan mendorong petani untuk memperbaiki posisi tawar yang lebih baik. Hal ini akan menjadi panduan dan arah bagi petani dalam mengambil keputusan-keputusan produksi untuk memahami terhadap perbedaan harga berdasarkan mutu ditingkat petani yang dihubungkan dengan keputusan petani untuk menghasilkan kopi robusta bermutu tinggi berdasarkan nilai rantai dan kondisi harga kopi robusta tersebut.Nugroho Dwi Sudibyo dari Apresio Kopi Malang selaku ketua tim penguji cita rasa menjelaskan bahwa biji kopi robusta yang di nilai adalah hasil panenan tahun 2019 dari varian proses basah (full wash), proses madu (honey) dan asalan mutu 3 (commercial grade). Secara umum, rata -rata nilai proses madu (honey) kami nilai 6.5, artinya kopi robusta yang diolah petani baik. Perlu perbaikan dalam proses penjemuran dan penyimpanan, karena masih ada rasa kopi yang kurang kuat dan dikerongkongan terasa kering. Nilai kopi robusta proses basah mendapatkan skor 7. Nilai kopi Robusta proses basah dikarenakan proses pengolahannya dikontrol secara baik dan biji kelihatannya lebih bersih (clean).

Selengkapnya

Klinik Kopi Dampingan API Dapat Dukungan dari Dunia Internasional

Salah satu kopi robusta yang banyak digandrungi masyarakat berasal dari Dampit Kabupaten Malang. Kopi bercita rasa kuat dan khas ini diproduksi oleh petani kopi anggota koperasi yang merupakan dampingan Aliansi Petani Kopi Indonesia (API), yaitu Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama.

Bersama Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama API menggelar Klinik kopi dan pertemuan para pemangku kepetingan.

“Klinik Kopi dan pertemuan para pemangku kepentingan merupakan rangkaian kegiatan penutup dari beberapa kegiatan sebelumya seperti pelatihan pengelolaan paska panen dan penjaminan mutu, rencana usaha dan kelayakan bisnis kopi robusta dan pelatihan koperasi mulai tanggal 3 – 22 Agustus 2020,” jelas Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aliansi Petani Indonesia (API), Muhammad Nurudin, saat melakukan pendampingan kegiatan di Dampit, kabupaten Malang, Rabu (01/09).

Disebutkan Gus Din, Klinik Kopi yang merupakan hasil kerja sama Seknas API dengan Poktan Tunas Baru, yang digelar pada tanggal 31 Agustus-1 September 2020 di RT 02 RW 07 Dusun Purwosari, Desa Srimulyo Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, merupakan program berskala global dari Tema “Petani Melawan Kemiskinan”.

Program ini didukung IFAD di Roma Itali, Uni Eropa di Brussel Belgia, Agri Cord di Spanyol, dan AsiaDhrra di Philpina. Banyak organisasi petani kecil di belahan Asia Pasifik, Amerika Latin, Afrika dan Eropa terlibat dalam proses pemberdayaan petani.

Program pelatihan yang digelar di rumah jemur kopi milik koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, mengundang pengolah (prosesor) kopi milenal yang juga pemilik kedai kopi. Beberapa dari undangan tersebut adalah Apresio, Museum Kopi, Remboeg Pawon, Koopen, Coffee Bar, Kedai Botani, Wiji Kawih, Datri Kopi, Coffee Belt serta Meneer Karjo.

Nugroho Dwi Sudibyo dari Apresio Kopi Malang selaku ketua tim penguji cita rasa menjelaskan, biji kopi robusta yang dinilai adalah hasil panenan tahun 2019 dari varian proses basah (full wash), proses madu (honey) dan asalan mutu 3 (commercial grade).

“Secara umum, rata-rata nilai proses madu (honey) kami nilai 6.5, artinya kopi robusta yang diolah petani baik,” ungkapnya pada saat kegiatan berlangsung.

Namun demikian, ia mengaku, perlu perbaikan di proses penjemuran dan penyimpanan, karena masih ada rasa kopi yang kurang kuat dan dikerongkongan terasa kering. Dijelaskannya juga bahwa nilai kopi robusta proses basah mendapatkan skor 7. Nilai kopi Robusta proses basah dikarenakan proses pengolahannya dikontrol secara baik dan biji kelihatannya lebih bersih (clean).

Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama sendiri merupakan wadah para petani kopi di tiga desa, srimulyo, sukodono dan baturetno kecamatan Dampit, kabupaten Malang. Sejak tahun 2016 telah memulai usaha pemasaran bersama dengan kopi berbagai kualitas, dari kualitas premium hingga kualitas komersial grade (asalan mutu 3).

Kecamatan Dampit dikenal konsumen kopi nasional dan internasional dengan brand Java Dampit yang mempunyai cita rasa kopi yang kuat dan sangat disukai konsumen. Dengan luasan lahan kopi robusta rakyat 2.786 hektar yang menghasilkan produksi kopi 1. 912 ton per tahun dengan rata-rata produktifitas 695 kg per tahun.

Keadaan geografis wilayah perkebunan kopi robusta rakyat di wilayah kecamatan Dampit yang khas ini menimbulkan tantangan di bidang logistik dan tantangan untuk mendukung teknologi yang lebih baik dan mengembangkan kelembagaan ekonomi petani yang terorganisir dan fokus pada nilai rantai dan pemasaran bersama.

Dengan luasan kebun yang bervariasi dan semakin sempitnya lahan, menjadikan efektifitas produksi menjadi beragam dengan model yang berbeda-beda pula. Permasalahan yang sering dihadapi dalam mendapatkan kopi yang berkualitas adalah kesadaran dan kemampuan petani kopi yang berbeda-beda.

Kepala BPP Kecamatan Dampit, Jajang Selamet mengatakan, kondisi sosial ekonomi petani seperti, kebutuhan yang mendesak, jauhnya kebun kopi dari rumah petani dan kekurangan tenaga kerja memberikan perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan integrasi hulu-hilir. Pemerintah telah memperkuat kapasitas petani kopi wilayah Amsterdam melalui sekolah lapang kopi bekerjasama dengan IDH dari Belanda untuk perbaikan budidaya dan pengelolaan paska panen kopi.

Sementara itu, Ketua Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Propinsi Jawa Timur,  Mohamad Yasin Kami mengapresiasi pemberdayaan kepada petani kopi dan diperlukan sinergitas program dan kegiatan Bersama Aliansi Petani Indonesia, karena program ini memberikan nilai tambah bagi petani kopi.

Setali tiga uang Kementerian Desa melalui Direktur Pengembangan Ekonomi Desa (PUED), Nugroho Setyo Nagoro perlu mendukung kegiatan ini dan berjanji akan memberikan dukungan teknis melalui supervisi kepada petani kopi anggota Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama.

Selengkapnya
Pilih Bahasa