MALANG- Klinik kopi merupakan media pembelajaran bagi petani kopi dan konsumen untuk mengetahui seberapa bagus mutu biji kopi yang diproduksi oleh petani. Biji kopi sebagaimana kita ketahui bersama, prosesnya berlangsung dari hulu dimulai dari petani sebagai produsen hingga sampai ke hilir (konsumen). Bertempat di rumah jemur kopi milik koperasi Sridonoretno Makmur Bersama, klinik kopi ini mengundang pengolah (prosesor) kopi milenal yang juga pemilik kedai kopi seperti Apresio, Museum Kopi, Remboeg Pawon, Koopen, Coffee Bar, Kedai Botani, Wiji Kawih, Datri Kopi, Coffee Belt serta Meneer Karjo. Koperasi Sridonoretno Makmur Bersama adalah wadah para petani kopi tiga desa yakni Srimulyo, Sukodono dan Baturetno di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Sejak tahun 2016 telah memulai usaha pemasaran bersama dengan kopi berbagai kualitas. Seperti, kualitas premium hingga kualitas komersial grade (asalan mutu 3). Heryanto menjelaskan jika pihaknya bekerjasama dengan Poktan Tunas Baru dan Seknas Aliansi Petani Indonesia pada tanggal 31 Agustus- 1 September 2020 di RT 02 RW 07 Dusun Purwosari, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. “Kami gelar ini untuk menambah pengetahuan para petani,” terang Ketua Koperasi Sridonoretno Makmur Heryanto.

Klinik Kopi dan Pertemuan Para Pemangku Kepentingan merupakan rangkaian kegiatan penutup dari beberapa kegiatan sebelumya seperti pelatihan pengelolaan paska panen dan penjaminan mutu. Tak hanya itu, Heryanto menyebut ada pendampingan rencana usaha dan kelayakan bisnis kopi robusta dan pelatihan koperasi mulai tanggal 3 – 22 Agustus lalu. Kegiatan ini merupakan program berskala global dari Tema “Petani Melawan Kemiskinan” yang didukung IFAD di Roma Itali, Uni Eropah di Brussel Belgia, Agri Cord di Spanyol, dan AsiaDhrra di Philpina. Banyak organisasi petani kecil di belahan Asia Pasifik, Amerika Latin, Afrika dan Eropa terlibat dalam proses pemberdayaan petani.Kecamatan Dampit dikenal konsumen kopi nasional dan internasional dengan brand Java Dampit yang mempunyai cita rasa kopi yang kuat dan sangat disukai konsumen. Dengan luasan lahan kopi robusta rakyat 2.786 hektar yang menghasilkan produksi kopi 1. 912 ton per tahun dengan rata-rata produktifitas 695 kg per tahun. Keadaan geografis wilayah perkebunan kopi robusta rakyat di wilayah kecamatan Dampit yang khas ini menimbulkan tantangan di bidang logistik dan tantangan untuk mendukung teknologi yang lebih baik dan mengembangkan kelembagaan ekonomi petani yang terorganisir dan fokus pada nilai rantai dan pemasaran bersama. Dengan luasan kebun yang bervariasi dan semakin sempitnya lahan, menjadikan efektifitas produksi menjadi beragam dengan model yang berbeda-beda pula. Permasalahan yang sering dihadapi dalam mendapatkan kopi yang berkualitas adalah kesadaran dan kemampuan petani kopi yang berbeda-beda.Menurut Muhammad Nuruddin, klinik kopi dan pertemuan multipihak ini bertujuan mengembangkan platform bersama dengan pemangku kepentingan seperti pemerintah selaku pengambil kebijakan dan kedai kopi sebagai pengolah dan konsumen yang memberikan masukan kepada petani untuk perbaikan dari budidaya dan pengelolaan paska panen. “Termasuk pengembangan platform antara petani, roastery, konsumen dalam bentuk tim uji cita rasa kopi dalam pendekatan pembelajaran berbentuk klinik kopi untuk memperbaiki ketelusuran dan keterlacakan mutu kopi,” ungkap Nuruddin. Tak hanya itu, Kepala BPP Kecamatan Dampit, Jajang Selamet mengatakan bahwa kondisi sosial ekonomi petani seperti, kebutuhan yang mendesak, jauhnya kebun kopi dari rumah petani dan kekurangan tenaga kerja memberikan perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan integrasi hulu – hilir. Pemerintah telah memperkuat kapasitas petani kopi wilayah Amstirdam melalui sekolah lapang kopi bekerjasama dengan IDH dari Belanda untuk perbaikan budidaya dan pengelolaan paska panen kopi.Kegiatan ini berkontribusi kepada petani dalam hal perbaikan mata rantai kopi untuk menghasilkan mutu biji kopi (green bean) dalam perdagangan kopi robusta dipasar domestik. Usaha-usaha yang dilakukan oleh petani dan kelembagaan petani (koperasi pemasaran) untuk menjawab sejauh mana perbedaan mutu kopi terhadap harga kopi robusta dapat ditingkatkan dan mendorong petani untuk memperbaiki posisi tawar yang lebih baik. Hal ini akan menjadi panduan dan arah bagi petani dalam mengambil keputusan-keputusan produksi untuk memahami terhadap perbedaan harga berdasarkan mutu ditingkat petani yang dihubungkan dengan keputusan petani untuk menghasilkan kopi robusta bermutu tinggi berdasarkan nilai rantai dan kondisi harga kopi robusta tersebut.Nugroho Dwi Sudibyo dari Apresio Kopi Malang selaku ketua tim penguji cita rasa menjelaskan bahwa biji kopi robusta yang di nilai adalah hasil panenan tahun 2019 dari varian proses basah (full wash), proses madu (honey) dan asalan mutu 3 (commercial grade). Secara umum, rata -rata nilai proses madu (honey) kami nilai 6.5, artinya kopi robusta yang diolah petani baik. Perlu perbaikan dalam proses penjemuran dan penyimpanan, karena masih ada rasa kopi yang kurang kuat dan dikerongkongan terasa kering. Nilai kopi robusta proses basah mendapatkan skor 7. Nilai kopi Robusta proses basah dikarenakan proses pengolahannya dikontrol secara baik dan biji kelihatannya lebih bersih (clean).